Amalan di Awal Dzulhijah

At Tauhid edisi VI/44
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah
Keutamaan beramal di sepuluh hari pertama Dzulhijah diterangkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“[1]
6 Amalan di Awal Dzulhijah
Pertama: Puasa
Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh. Juga ada terdapat hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[2], …”[3]
Lebih khusus lagi adalah puasa di Hari Arofah (9 Dzulhijah). Dalam hadits disebutkan, “Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.”[4] [5]
Catatan: Adapun hadits yang membicarakan puasa Hari Tarwiyah (puasa khusus tanggal 8 Dzulhijah), “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu”, hadits tersebut adalah dhoif (lemah). Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih.[6] Asy Syaukani mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih dan dalam riwayatnya ada perowi yang pendusta.[7] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).[8] Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijah karena hadisnya dho’if. Namun jika berpuasa pada hari itu karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.
Kedua: Takbir dan Dzikir
Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya. Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.[9]
Catatan: Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqoyyad (dikaitkan dengan waktu tertentu). Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki. Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah[10]. Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Cara bertakbir adalah dengan ucapan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Ketiga: Berqurban
Di hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijah) disunnahkan bagi yang mampu sebagaimana amalan ini telah menjadi warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Keempat: Bertaubat
Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama.
Kelima: Memperbanyak Amalan Sholeh
Sebagaimana keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan di awal tulisan, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu. [11] [12]
Meraih Ampunan di Hari Arofah
Hari Arofah adalah hari di mana Allah menyempurnakan Islam dan menyempurnakan nikmat-Nya ketika itu. Hari Arofah adalah hari haji Akbar menurut  mayoritas salaf. Hari Arofah juga adalah hari istimewa bagi umat ini. Anas bin Malik pernah mengatakan, “Hari Arofah lebih utama dari 10.000 hari-hari lainnya.”[13]
Mengenai hari Arofah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”[14]
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa siapa yang ingin mendapatkan pembebasan dari api neraka dan pengampunan dosa pada hari Arofah, maka lakukanlah hal-hal berikut: (1) Melaksanakan puasa Arofah. (2) Menjaga anggota badan dari hal-hal yang diharamkan pada hari tersebut. (3) Memperbanyak syahadat tauhid, keikhlasan dan kejujuran pada hari tersebut karena semuanya tadi adalah asas agama ini yang Allah sempurnakan pada hari Arofah. (4) Memerdekakan seorang budak jika mampu. (5) Memperbanyak do’a ampunan dan pembebasan dari api neraka ketika itu karena hari Arofah adalah hari terkabulnya do’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.”[15]
Dan untuk mendapatkan pembebasan dari api neraka dan pengampunan dosa, hendaklah pula dijauhi segala dosa yang dapat menghalangi dari mendapatkan ampunan, di antaranya: (1) Sifat sombong dan takabbur. (2) Terus menerus dalam melakukan dosa-dosa besar (al kaba-ir).[16]
Amalan di Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijah)
Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari Tasyriq termasuk hari ‘ied kaum muslimin. Disebutkan dalam hadits,  “Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.”[17]
Dalam surat Al Baqarah ayat 203, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” Yang dimaksud hari yang terbilang adalah hari-hari setelah hari Idul Adha yaitu hari-hari tasyriq. Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq.[18]
Lalu apa saja dzikir yang dimaksudkan ketika itu? Beberapa dzikir yang diperintahkan oleh Allah di hari-hari tasyriq ada beberapa macam: (1) Berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. (2) Membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih qurban. (3) Berdzikir memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum. (4) Berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. (5) Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq. (6) Dianjurkan memperbanyak do’a sapu jagad. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari ayat ini kebanyakan ulama salaf menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.[19]
Semoga sajian singkat ini bermanfaat dan moga Allah memberkahi kita dalam kebaikan di awal Dzulhijah dan hari-hari tasyriq. [M. Abduh Tuasikal, ST]
_____________
[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.
[2] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi.
[3] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[4] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah
[5] Seperti saat ini terjadi perbedaan awal Dzulhijah antara Saudi Arabia dan Indonesia. Ketika melaksanakan puasa Arofah, manakah yang harus diikuti, ikut wukuf Arofah ataukah ikut penetapan Dzulhijah di Indonesia? Hal ini ada silang pendapat di antara para ulama. Pendapat yang penulis cenderungi adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin di mana beliau rahimahullah berkata, “Hendaklah kalian berpuasa dan berhari raya sebagaimana puasa dan hari raya yang dilakukan di negeri kalian (yaitu mengikuti keputusan penguasa). Meskipun memulai puasa atau berpuasa berbeda dengan negeri lainnya. Begitu pula dalam masalah puasa Arofah, hendaklah kalian mengikuti penentuan hilal di negeri kalian.” (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H, 19/24-25). Artinya berpuasa Arofah dengan mengikuti penetapan 9 Dzulhijah di Indonesia, itu yang lebih utama. Wallahu a’lam.
[6] Lihat Al Mawdhu’at, 2/565
[7] Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96
[8] Lihat Irwa’ul Gholil no. 956.
[9] Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”.
[10] Syaikh Hammad bin ‘Abdillah bin Muhammad Al Hammad, guru kami dalam Majelis di Masjid Kabir KSU Riyadh, dalam Khutbah Jum’at (28/11/1431 H) mengatakan bahwa takbir tersebut bukan dilakukan secara jama’i (berjama’ah) sebagaimana kelakukan sebagian orang.
[11] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, Dar Al Imam Ahmad, hal. 116, 119-121.
[12] Point-point yang ada kami sarikan dari risalah mungil “’Ashru Dzilhijjah” yang dikumpulkan oleh Abu ‘Abdil ‘Aziz Muhammad bin ‘Ibrahim Al Muqoyyad.
[13] Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, hal. 489.
[14] HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah
[15] HR. Tirmidzi no. 3585, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[16] Lihat Lathoif Al Ma’arif, 493-496.
[17] HR. Abu Daud no. 2419, Tirmidzi no. 773, An Nasa-i no. 3004, dari ‘Uqbah bin ‘Amir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[18] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 502-503
[19] Lihat Latho-if Al Ma’arif, 504-505.

0 komentar:

Poskan Komentar